M. Akbar Karan Satya Danendra, Siswa SMANSA Cianjur Borong Tujuh Prestasi Olimpiade Bahasa Inggris Nasional
:

CIANJUR, SJB
Setiap anak memiliki cara dan waktunya masing-masing untuk menunjukkan potensi terbaik. Hal tersebut dibuktikan oleh Muhammad Akbar Karan Satya Danendra, siswa kelas XI-7 SMANSA Cianjur, yang berhasil mengukir prestasi membanggakan dengan meraih tujuh penghargaan dalam Olimpiade Bahasa Inggris di berbagai ajang kompetisi tingkat nasional.
Remaja kelahiran 13 Mei 2010 ini merupakan anak bungsu dari tiga bersaudara. Di lingkungan sekolah, Karan dikenal sebagai sosok yang sederhana dan rendah hati. Ia bukan siswa yang selalu menjadi pusat perhatian, baik dalam bidang akademik maupun nonakademik.

Karan justru lebih dikenal memiliki kecintaan terhadap olahraga, khususnya futsal. Ia aktif mengikuti kegiatan ekstrakurikuler futsal dan kerap menghabiskan waktu bersama teman-temannya di lapangan.
Bagi Karan, futsal bukan hanya sekadar hobi. Dari kegiatan tersebut, ia belajar mengenai kedisiplinan, kerja sama, sportivitas, serta pentingnya konsistensi dalam menjalani proses.
Namun, di balik sosoknya yang sederhana, Karan ternyata memiliki semangat belajar yang cukup kuat, khususnya dalam bidang Bahasa Inggris.
Ketekunan dan kemauannya untuk terus belajar secara perlahan mulai membuahkan hasil. Ia kemudian mengikuti berbagai kompetisi Olimpiade Bahasa Inggris dan berhasil mengumpulkan tujuh penghargaan dari tujuh kompetisi yang diikutinya.
- SMK Pariwisata PHT Cianjur Kunjungi Istana Presiden, Siswa Dapat Pengalaman Bersejarah dalam Program “Istana untuk Anak Sekolah”
- Empat Siswa SMK Pariwisata PHT Cianjur Harumkan Nama Sekolah di Olimpiade Nasional Bahasa Inggris
Dari tujuh prestasi tersebut, Karan berhasil meraih lima medali emas, satu medali perak, serta penghargaan The 3rd Best Favorite Winner.
Pencapaian tersebut menjadi kebanggaan tersendiri bagi Karan, keluarga, sekolah, dan Kabupaten Cianjur.
Berawal dari “Dipaksa” Sang Ibu
Menariknya, perjalanan Karan di dunia olimpiade Bahasa Inggris ternyata tidak sepenuhnya berawal dari keinginannya sendiri.
Sang ibu, Nia Rohania, awalnya mendorong Karan untuk mengikuti berbagai kompetisi sebagai salah satu upaya mempersiapkan dirinya agar dapat masuk SMANSA Cianjur melalui jalur prestasi.
Karan pun mengikuti saran sang ibu. Dari yang awalnya merasa terpaksa, justru lahirlah kecintaan terhadap kompetisi.
“Awalnya dipaksa sama Ibu supaya bisa masuk jalur prestasi ke SMANSA. Alhamdulillah, keterpaksaan itu akhirnya membuahkan hasil dan saya diterima di SMANSA lewat jalur prestasi,” ungkap Karan.
Setelah berhasil meraih sejumlah prestasi, Karan justru semakin tertarik mengikuti berbagai kompetisi.
“Sekarang malah ketagihan. Kalau ada kesempatan, saya akan terus mengikuti lomba Olimpiade Bahasa Inggris. Ke depan saya juga ingin mencoba Olimpiade Matematika,” tuturnya.
Tidak berhenti sampai di situ, Karan juga telah memiliki cita-cita besar untuk melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi terbaik.
“Saya ingin masuk ITB dan melanjutkan kuliah ke luar negeri,” ujarnya.
Dukungan Orang Tua Jadi Kunci
Bagi Nia Rohania, berbagai medali dan penghargaan yang diraih putranya bukanlah tujuan akhir. Lebih dari sekadar koleksi prestasi, perjalanan Karan menjadi pembelajaran bahwa setiap anak mempunyai potensi dan waktu berkembang yang berbeda.
Menurutnya, tidak semua anak harus menjadi siswa yang paling menonjol sejak awal. Dengan dukungan, kesempatan, serta kepercayaan dari orang-orang di sekitarnya, seorang anak dapat menemukan bidang yang sesuai dengan potensinya.
Kisah Karan menjadi bukti bahwa prestasi dapat lahir dari proses yang sederhana. Ketika kesempatan datang dan dimanfaatkan dengan sungguh-sungguh, sesuatu yang awalnya dilakukan karena dorongan orang lain dapat berkembang menjadi kecintaan dan motivasi pribadi.
Tujuh prestasi yang diraih Karan juga menunjukkan pentingnya konsistensi, disiplin, dan keberanian untuk mencoba.
Prestasi tersebut diharapkan dapat menjadi inspirasi bagi pelajar lainnya agar tidak takut mencoba berbagai kompetisi dan terus menggali potensi yang dimiliki.
Sebab, keberhasilan tidak selalu menjadi milik mereka yang sejak awal terlihat paling menonjol. Kesuksesan juga menjadi milik mereka yang mau berproses, terus belajar, dan tidak mudah menyerah.
**ANDI














