Hari Santri Nasional 2026, Haris Bunyamin Dorong Santri Jadi Pelopor Gerakan Pelestarian Lingkungan

BANDUNG BARAT, SUARA JABAR BANTEN
Peringatan Hari Santri Nasional yang jatuh setiap 22 Oktober menjadi momentum untuk memperkuat peran santri dalam menghadapi krisis lingkungan hidup. Inisiator Pangauban Santri Gugus Lingkungan (Pager Saguling), Haris Bunyamin, menegaskan bahwa perjuangan santri masa kini tidak hanya berkaitan dengan persoalan keagamaan, tetapi juga tanggung jawab menjaga kelestarian bumi.
Dalam keterangannya pada Jumat, 23 Oktober 2026, Haris menyampaikan bahwa krisis lingkungan, seperti pencemaran sungai, kerusakan hutan, krisis air bersih, perubahan iklim, dan eksploitasi sumber daya alam, membutuhkan keterlibatan seluruh elemen masyarakat, termasuk pesantren dan komunitas santri. Menurutnya, peringatan Hari Santri tidak seharusnya berhenti pada kegiatan seremonial, tetapi perlu diwujudkan melalui aksi nyata dan berkelanjutan.
Kesalehan Ekologis dan Pesantren Hijau
Haris menjelaskan bahwa dalam perspektif Islam, manusia merupakan khalifah fil ardi, yakni pemegang amanah untuk memakmurkan dan menjaga bumi. Ia merujuk Surah Al-A’raf ayat 56 yang melarang manusia membuat kerusakan di muka bumi.
Menurutnya, kesalehan tidak hanya tercermin dalam pelaksanaan ibadah individual, tetapi juga dalam kepedulian terhadap lingkungan dan kehidupan sosial. Menjaga mata air, merawat pohon, mengurangi sampah, serta memulihkan lahan kritis merupakan bentuk nyata kesalehan ekologis.
Ia menilai pesantren memiliki potensi besar untuk menjadi pusat pendidikan dan gerakan lingkungan melalui program Pesantren Hijau, pengelolaan sampah berbasis ekonomi sirkular, pertanian berkelanjutan, penghijauan, serta pemanfaatan energi terbarukan.
“Pesantren bisa menjadi living laboratory kehidupan berkelanjutan,” ujar Haris.
Memadukan Nilai Islam, Ilmu Pengetahuan, dan Kearifan Sunda
Haris juga menekankan pentingnya memadukan ajaran Islam, ilmu pengetahuan modern, dan kearifan lokal dalam membangun gerakan lingkungan berbasis santri.
Salah satu nilai kearifan Sunda yang disorot adalah falsafah leuweung kaian, gawir awian, lebak caian, yang mengandung pesan mengenai pemanfaatan dan pemeliharaan ruang sesuai dengan fungsi ekologisnya. Nilai tersebut, menurutnya, sejalan dengan prinsip keseimbangan, amanah, dan kemaslahatan dalam ajaran Islam.
Ia turut menyoroti kondisi Waduk Saguling dan Daerah Aliran Sungai Citarum sebagai ruang pembelajaran penting mengenai tantangan pengelolaan lingkungan. Persoalan pencemaran air, sedimentasi, sampah, dan kerusakan kawasan tangkapan air dinilai berkaitan dengan tata kelola pembangunan serta perilaku masyarakat.
Karena itu, Haris mendorong kolaborasi antara pemerintah, dunia usaha, perguruan tinggi, pesantren, dan masyarakat. Pemerintah diharapkan memperkuat pengawasan, dunia usaha menjalankan tanggung jawab lingkungan, perguruan tinggi berkontribusi melalui penelitian, sedangkan pesantren menggerakkan partisipasi masyarakat.
Pager Saguling Dorong Gerakan Berkelanjutan
Melalui Pager Saguling, Haris mengusung prinsip “Merawat dan Menjaga Bumi sebagai Khalifah fil Ardi”. Gagasan Pesantren Hijau, konservasi sumber daya air, dan pengembangan ekonomi hijau diharapkan menjadi bagian dari pengabdian santri yang memberikan manfaat langsung bagi masyarakat.
Ia menegaskan bahwa keberhasilan gerakan lingkungan harus diukur melalui hasil nyata, bukan sekadar kegiatan seremonial. Indikatornya antara lain tingkat keberhasilan tumbuh tanaman, pengurangan volume sampah, efisiensi penggunaan air, serta perubahan perilaku warga pesantren.
“Hari Santri bukan hanya mengenang masa lalu, tetapi menyiapkan generasi penjaga masa depan bumi. Air bersih, hutan terjaga, dan sungai yang sehat adalah bagian dari kesejahteraan bangsa dan amanah konstitusi Pasal 28H ayat (1) Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945,” pungkasnya.
Melalui momentum Hari Santri Nasional 2026, gerakan lingkungan berbasis pesantren diharapkan semakin berkembang menjadi aksi nyata untuk menjaga kelestarian alam sekaligus memperkuat kepedulian sosial masyarakat.
**AYI SETIAWAN














